Selasa, 02 November 2021

Refleksi Minggu Ke 10 (Modul 2.1. Pembelajaran Berdiferensiasi)

 

Salam dan Bahagia



Pekan ini diawali dengan eksplorasi konsep pembelajaran berdiferensiasi. Strategi pembelajaran yang mengakomodir kebutuhan dan potensi siswa yang beragam di kelas. Strategi ini menitik beratkan pada tiga aspek yaitu diferensiasi konten, diferensiasi proses, dan diferensiasi produk. 

Ketika membaca konsep ini saya merasa bahagia. Seperti diberikan penerangan di jalan gelap. Karena selama ini saya belum pernah mendapatkan ilmu ini. Selama ini saya mengajar satu kurikulum untuk semua anak. Hal ini seperti “memerkosa”  hak anak untuk mendapatkan apa yang ia butuhkan.

 Sejatinya Pandemi Covid-19 adalah cara Tuhan untuk membuat saya kreatif. Sebab dengan tidak sengaja saya telah mempraktikkan pembelajaran berdifererensiasi proses. Tidak semua anak di kelas Saya dapat mengakses internet full kuota dan menyaksikan video pembelajaran yang saya kirimkan. Saya berusaha menjembatani siswa yang hanya mampu membeli paket chating whatssapp dengan mengirimkan gambar tangkapan layar video dan memberikan pesan suara agar anak tetap dapat belajar layaknya siswa yang dapat mengakses video. Namun demikian saya belum menyiapkan strategi diferensiasi berdasarkan minat dan potensi anak.

Saya akan berusaha semaksimal mungkin untuk membuat diagnosis kebutuhan dan minat siswa sebelum memberikan pembelajarn di kelas. Saya juga akan merubah peniliaan dengan memberikan kebebasan kepada siswa untuk membuat unggahan karya sesuai dengan minat siswa (difrensiasi produk).



Hari ketiga pekan ini, Saya bersama teman-teman di SDN Panongan II mengadakan Rabu Literasi. Sebagai hari untuk belajar dan berbagi dengan harapan komunitas praktisi di SDN Panongan II dapat terintis. Materi yang sama-sama kita diskusikan adalah budaya positif. Pentingnya membuat komitmen bersama di kelas sebagai suatu keyakinan kelas yang berasa dari nilai-nilai universal yang diyakini siswa. Sehingga siswa dapat mempraktikkan keyakinan kelas ini tanpa paksaan.

Namun baru 10 menit berjalan, hujan turun dan kelas tempat kami melaksanakan Rabu Literasi bocor, sehingga aksi berbagi belum tuntas.  Kami sepakat untuk melanjutkan Rabu pekan berikutnya dengan materi yang sama tentang budaya positif namun focus berbeda, yaitu tentang budaya refleksi bagi guru untuk meningkatkan kualitas pembelajaran di kelas. 

Pekan ini juga saya mengedit video aksi nyata saya modul 1 dan saya unggah di youtube dengan tautan klik


di sini

Ada 13 guru dan 1 kepala sekolah di SDN Panongan II. Namun hanya 6 guru yang bisa hadir di Rabu Literasi. Beberapa guru ada tugas ANBK dan diklat serta mengurus administrasi bantuan PIP ke BRI. Jujur, saya agak kecewa. Namun Saya berusaha berbesar hati semoga di lain hari bisa diagendakan lagi.



Kamis, 28 Oktober 2021 bertepatan dengan hari Sumpah Pemuda merupakan jadwal Pendampingan Individu Saya yang kedua bersama ibu HJ.Wakhida Nurhayati, M.Pd. Pendampingan kali ini masih seputar praktik budaya positif di sekolah dan merintis komunitas praktisi di sekolah tempat saya mengajar. Selain refleksi dari tiga teman sejawat dan wawancara dengan 3 siswa kelas 6 SDN Panongan II.

Pada sesi kali ini kami banyak diskusi tentang cara membangun motivasi intrinsik siswa. Banyak pelajaran yang saya ambil dari perbincangan kami. Beliau mengatakan bahwa tantangan guru saat ini lebih sulit karena siswa adalah generasi stroberi. Anak yang akrab dengan dunia digital, selalu ingin tampil beda namun lembek secara mental. Jadi sebagai guru hendaknya selalu memberikan stimulus kepada siswa untuk selalu berpikir. Ketika ada masalah terjadi katakana kepada siswa,”Coba pikirkan apa jalan keluarnya!” Guru tidak langsung  memberikan bantuan. Biarkan anak berusaha dulu untuk melatih daya juang siswa menghadapi tantangan. Namun demikian guru tetap menjadi fasilitator dan tidak masa bodoh dengan kesulitan anak.

Sesi pendampingan individu adalah salah satu sesi yang saya rindukan. Karena selalu ada hal dan ilmu baru yang saya dapatkan dari Bu Hj.Wakhida Nurhayati, M.Pd. The Power of Three or Five juga membuat saya berpikir ulang untuk memperbaiki keyakinan kelas saya yang hanya 4 jenis. Layaknya baterai yang energinya menipis. Namun dengan adanya pendampingan ini, semangat saya untuk terus berubah memperbaiki diri dan merintis komunitas tetap terjaga.



Jadwal di hari Kamis ini juga diskusi Ruang Kolaborasi dengan Fasilitator Ibu Dwi Yoga Peny H, M.Pd. Kali ini saya mendapat kelompok A bersama bu Yani Yulinar dan bu Nur Ratna Laela. Kami sepakat membahas materi kelas 6 SD tentang kalimat tanya. Beberapa miskonsepsi masih saya alami di sesi ini. Namun setelah mengikuti sesi ini, Saya semakin memahami konsep diferensiasi konten, proses, dan produk. Semoga saya dapat mempraktikkan pembelajaran ini di kelas saya.



Pekan ini juga saya mengagendakan wawancara dengan guru terkait tugas Lokakarya 3 yaitu membangun visi misi di Sekolah dengan mengaplikasikan teori BAGJA. Saya merasa bahagia karena semua guru mendukung penuh Program Pendidikan Guru Penggerak yang sedang saya jalani. Ketika saya meminta bantuan apapun mereka bersedia membantu. Pun ketika saya ingin mewawancarai beberapa guru, mereka dengan sukarela menjawab pertanyaan saya. Semoga tagline di SDN Panongan II “ Dengan Bersama Kita Bisa” dapat terus berjalan demi terwujudnya profil pelajar Pancasila di SDN Panongan II.


0 komentar:

Posting Komentar