Rabu, 16 September 2020

Orientasi Kelas Menulis Antologi Pendidikan Angkatan 25 SGSI

 Malam ini, Rabu, 16 September 2020 KMA OP-25 dibuka oleh Bunda Erni dalnjutkan dengan sambutan dari Master Sambadar sebagai CEO SGSI.

Beliau berpesan


Materi oleh Master Eka Wardana

Berbahagialah orang yang sibuk, menandakan dirinya memiliki makna kehidupan. Kata kerja merupakan penyerta dalam sebuah kalimat subyek-predikat-keterangan. Hanya kata subyek, maka tak bisa disebut sebagai kalimat. Bagaimana? Apakah kamu bahagia dengan kesibukan?

Mengapa kesibukan sering dipermasalahkan ketika berhubungan dengan menulis? Apakah menulis merupakan gangguan dalam kesibukan?

Sebenarnya, sejak dulu semua orang sibuk. Dari yang sibuk itu, banyak pula yang masih sempat menulis di antaranya. Bahkan sebagian besarnya para penulis itu kesibukannya tidak berkurang. Para penulis di media utama adalah para pejabat yang kesibukannya tidak sedikit. Contoh, rektor Universitas Indonesia merupakan penulis produktif di harian Kompas. Apakah kita lebih sibuk dari Pak Rektor? Bagaimana menurutmu?

Jika kita mendedikasikan diri untuk menulis maka tidak ada salahnya menyediakan waktu untuk menulis. Mengapa? Karena menulis panggilan jiwa, bukan keharusan atau paksaan, namun sesuatu yang terus-menerus membisiki batin untuk mengetikan jari di atas tuts. Bagaimana pendapatmu?

Pengingat diri ini ya, 

Boleh jeda menulis, namun jangan berpikir untuk benar-benar berhenti menulis. Mengapa? Begitu berhenti menulis, maka memulainya seperti menegakkan benang basah, susah dan butuh tenaga ekstra, kamu pernah merasakan?

ini ya, pembeda!

Jika dirimu sibuk, orang lain sibuk; maka beda antara dirimu dengan orang lain adalah dirimu mampu mengatur waktu dan perhatian untuk menulis sementara orang lain tidak bisa. Iya nggak sih? (2 menit ya)

ini yang bikin aku mikir:

Semua orang mendapat jatah sama : 24 jam, tujuh hari sepekan. Satu bulan, satu tahun dan seterusnya. Bedanya, kita mengisinya dengan menulis dan tidak meninggalkan satu waktu pun berlalu tanpa sejarah menulis. Coba pikirkan berapa waktu yang hilang karena tidak ada sejarah yang tercatat. Dan sejarah itu yang tertulis lho.

kadang merenung seperti ini:

Entah bagaimana caranya, para penulis itu mampu menghasilkan karyanya dengan gemilang. Melalui proses yang tidak ringan namun ternyata mampu menyelesaikan tulisan demi tulisan. Artinya, selama tidak terkalahkan oleh kesibukan maka sesungguhnya karya dapat tercipta. Bukan begitu?

ini juga bikin adem:

Kuncinya ada pada : kesibukan, aksi dan sikap. Banyak kesibukan namun sikap kita terhadap menulis seperti kebelet panggilan jiwa maka berlanjut ke aksi menulis. Begitu siklusnya, secara terus menerus.

aku juga suka ini ya:

Menulis itu personal branding, semacam ukiran diri sendiri. Menurut istilah Henry Miller, “Writing it’s own reward;” menulis merupakan hadiah itu sendiri. Senang dong kalau dapat hadiah?

selalu ku ingat :

Konon kabarnya, orang yang mampu menyelesaikan pekerjaan itu orang yang sibuk lho. Yang biasa menganggur malah bingung bagaimana menyelesaikan pekerjaan, termasuk dalam hal ini menulis. Banyak lho yang berkeluangan waktu tak juga mengahasilkan satu pun tulisan. Jadi menulis itu untuk orang sibuk. Iya nggak sih?

ini pengalamanku ya :

Apa ciri orang yang mampu menyelesaikan tulisan di tengah kesibukan? Salah satu cirinya adalah kamu merasa terhibur dan orang lain terhibur pula dengan tulisan kita. Kamu benar-benar menikmati apa yang kamu lakukan saat menulis. Karena menulis itu mengembangkan karir dan potensi diri. Makin dikenal karena tulisan kita.

Pekan depan mengupas : MENULIS BERDAMAI DENGAN KESIBUKAN.

0 komentar:

Posting Komentar