Sabtu, 23 April 2022

Time line Aksi Nyata Modul 3.3. Pengelolaan Program Berdampak Pada Murid

 TIME LINE BULET 

(RABU LITERASI DI SDN PANONGAN II

A.      Time line Aksi Nyata

 

Tanggal

 

Kegiatan

 

Penanggung Jawab

 

Sarana yang dibutuhkan

 

26-29 Maret 2022

Membuat Program

 

Sosialisasi program

 

Menyiapkan sarana prasarana

Kepala SDN Panongan II

 

CGP

 

Zona literasi

 

Buku bacaan

 

Infokus

 

Ppt sosialisasi

 

30 Maret 2022

Murid membaca buku bacaan

 

Murid mengapresiasi hasil bacaan dalam bentuk gambar, puisi, sinopsis

 

Kepala SDN Panongan II

 

CGP/

Guru Kelas 6

 

Murid kelas 6

Buku Bacaan

 

Kertas bekas

 

Pen/pensil

 

Contoh puisi/sinopsis

31 Maret 2022

Mengintergrasikan Rabu Literasi dengan mata pelajaran IPS, Bahasa Indonesia, IPA, PPKN

 

Murid mengapresiasi hasil bacaan dalam bentuk gambar, puisi, sinopsis, tabungan kata-kata sulit

 

 

Kepala SDN Panongan II

 

CGP/

Guru Kelas 6

 

Murid kelas 6

Buku Tema Kelas 6

 

Kertas bekas

 

Pen

 

Kotak tabungan kata

 

KBBI daring di HP

 

 

1 April 2022

Murid mendokumentasikan tabungan kata sulit menjadi kamus kata-kata sulit dari kardus bekas

 

Kepala SDN Panongan II

 

CGP/

Guru Kelas 6

 

Murid kelas 6

 

Tabungan kata sulit murid

 

Kardus susu/snack bekas

 

Gunting

 

Pita

 

Pelubang kertas

 

4 April 2022

Murid mendokumentasikan karya puisi atau sinopsis ke majalah dinding

Kepala SDN Panongan II

 

CGP/

Guru Kelas 6

 

Murid kelas 6

 

Puisi/sinopsis karya murid

 

Kertas karton

 

Kertas origami

 

Lem

 

Kertas marmer

 

Papan majalah dinding

 

gunting

 

5 – 8 April 2022

Membuat Refleksi

 

Kepala SDN Panongan II

 

CGP/

Guru Kelas 6

 

Murid kelas 6

Dokumentasi program

 

Catatan selama menjalankan program

 

Hasil refleksi/testimoni murid, guru dan kepala sekolah

 

 

10 – 15 April 2022

Membuat laporan program

CGP/Guru kelas 6

 

Pengajar Praktik

 

Video/foto dokumentasi selama program dijalankan

 

 

18 – 22 April 2022

Menyusun tindak lanjut program

CGP/Guru kelas 6

 

Pengajar Praktik

 

Hasil Refleksi CGP dan testimony murid, guru dan kepala sekolah

 

Rancangan program Rabu Literasi 3 bulan kedepan.

 

 

Sabtu, 09 April 2022

Koneksi Antar Materi Modul 3.1. Pengambilan Keputusan Sebagai Pemimpin Pembelajaran

 Mengajarkan anak menghitung itu baik, namun mengajarkan mereka apa yang berharga/utama adalah yang terbaik”

(Teaching kids to count is fine but teaching them what counts is best).
Bob Talbert

  • Dari kutipan di atas, apa kaitannya dengan proses pembelajaran yang sedang Anda pelajari saat ini?

Kaitan kutipan di atas memberikan arahan kepada guru untuk menentukan skala prioritas dalam mengambil keputusan. Modul 3.1. tentang Pengambilan Keputusan sebagai Pemimpin Pembelajaran mengajarkan kepada pendidik agar bijaksana ketika mengambil keputusan.Jangan sampai keputusan yang diambil guru di kelas merugikan murid. Atau justru membuat psikilogis murid terganggu. Sehingga menimbulkan trauma di masa mendatang. Modul ini juga mengajarkan pendidik untuk memutuskan sebuah masalah dengan kepala dingin dan penuh pertimbangan. Baik dari segi hukum, sosial maupun publik.

  • Bagaimana nilai-nilai atau prinsip-prinsip yang kita anut dalam suatu pengambilan keputusan dapat memberikan dampak pada lingkungan kita?
Seperti yang dijelaskan dalam modul ini, bahwa ketika kita mengambil keputusan kita dituntun untuk melakukan uji benar salah yaitu uji instuisi. Dimana uji ini berlandaskan pada nilai-nilai yang diyakini pendidik selama ini. Jika seorang pendidik berpikiran terbuka, bijak, dan demolkratis, maka bukan tak mungkin keputusan yang diambil dengan mempertimbangkan berbagai segi. Pun dampak yang ditimbulkan dari keputusan tersebut dikaji terlebih dahulu. Mencoba menempatkan suatu masalah secara adil dan proporsional. Berpikir solutif dan penuh empati.

  • Bagaimana Anda sebagai seorang pemimpin pembelajaran dapat berkontribusi pada proses pembelajaran murid, dalam pengambilan keputusan Anda?
Guru sebagai pemimpin pembelajaran di kelas merupakan tokoh utama pada keberhasilan belajar murid. 

  1. Korelasi Guru sebagai Pemimpin Pembelajaran dan Pandangan Ki Hajar Dewantara



 Menurut Ki Hadjar Dewantara, seorang guru hendaklah memiliki sifat "among". Tidak hanya sekedar tranfer ilmu pengetahuan. Namun ia juga menumbuhkembangkan sikap dan perilaku sesui denga Profil Pelajar Pancasila. Meyakini bahwa setiap anak adalah cerdas.
Oleh karena itu, ketika seorang guru membuat sebuah keputusan, seyogyanya memposisikan sebagai orang tua. Dengan memberikan teladan di depan, ing ngarso sun tuladha, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani. 
Pun ketika memutuskan satu hal ketiga pratap triloka di ataslah yang menjadi acuan utama. Bukan karena faktor emosi atau benci. Apalagi sampai membuat trauma bagi murid.

2. Korelasi nilai-nilai Guru Penggerak dengan Prinsip Pengambilan Keputusan


Seorang guru adalah pribadi yang berasal dari sebuah keluarga. Nilai- nilai yang diyakini saat ini bukan hasil sim salabim  nam. Namun nilai tersebut merupakan panen dari taburan benih-benih kebaikan yang ditanamkan sejak kecil.

 Mulai dari pendidikan dan pengasuhan orang tua. Sekolah jenjang PAUD sampai perguruan tinggi sebagai institusi formal kedua setelah keluarga. Pun lingkungan tempat tinggal dan pergaulan.

Nilai-nilai kebaikan tersebut terus bertumbuh. Seiring waktu berjalan mencicipi asam garam kehidupan. Semakin mendewasakan dan penuh kebijaksanaan. 

Sehingga ketika seorang guru ketika mengambil keputusan pasti akan mempertimbangkan banyak hal. Apakah keputusan ini merugikan murid atau justru berpihak pada murid? Apa dampak keputusan yang guru ambil senantiasa dipertimbangkan dengan cermat. Baik atau buruknya. 
Bagaimana nilai-nilai yang tertanam dalam diri kita, berpengaruh kepada prinsip-prinsip yang kita ambil dalam pengambilan suatu keputusan?

Korelasi Coaching dengan Pengujian Efektivitas Pengambilan Keputusan


Bagaimana kegiatan terbimbing yang kita lakukan pada materi pengambilan keputusan berkaitan dengan kegiatan 'coaching' (bimbingan) yang diberikan pendamping atau fasilitator dalam perjalanan proses pembelajaran kita, terutama dalam pengujian pengambilan keputusan yang telah kita ambil. Apakah pengambilan keputusan tersebut telah efektif, masihkah ada pertanyaan-pertanyaan dalam diri kita atas pengambilan keputusan tersebut. Hal-hal ini tentunya bisa dibantu oleh sesi 'coaching' yang telah dibahas pada modul 2 sebelumnya.

Korelasi Coaching dengan pengambilan keputusan. Seorang guru sebelum mengambil keputusan hendaknya melakukan pendekatan terlebih dahulu kepada murid atau orang tua murid. Jika keputusan tersebut menyangkut progres pembelajaran murid. Pendekatan bertujuan menggali penyebab murid melakukan hal yang berdampak negatif terhadap pembelajaran murid. Hal ini bisa dilakukan dengan melakukan coaching kepada murid atau orang tua murid.  Jadi guru sebelum mengambil sebuah keputusan, hendaknya melakukan tahapan coaching terlebih dahulu. 

Korelasi Sosial Emosional Guru Penggerak terhadap Pengambilan Keputusan


Bagaimana kemampuan guru dalam mengelola dan menyadari aspek sosial emosionalnya akan berpengaruh terhadap pengambilan keputusan?

Guru adalah manusia biasa. Ia terlahir dari sebuah keluarga. Sikap dan nilai seorang guru ditentukan oleh pola pengasuhan dari ia lahir. Plus kondisi lingkungan ia tumbuh baik lingkungan formal maupun pendidikan formal. 
Setelah dewasa, menikah dan membangun sebuah keluarga. Kondisi dan komunikasi antar pasanagan sangat mempengaruhi emosi guru. Jika ia mempunyai keluarga yang harmonis, niscaya ia mempunyai pengendalian emosi yang baik. Jika seorang guru mempunyai pengendalian emosi yang baik niscaya ketika mengambil sebuah keputusanpun akan mempertimbangkan banyak hal. Melalui mekanisme 9 langkah sebelum sebuah keputusan ia buat.

Korelasi Nilai-nilai Guru Penggerak dengan Masalah Moral/ Etika 



Bagaimana pembahasan studi kasus yang fokus pada masalah moral atau etika kembali kepada nilai-nilai yang dianut seorang pendidik.

Nilai guru penggerak

Langkah- Langkah Pengambilan Keputusan Yang Tepat


Bagaimana pengambilan keputusan yang tepat, tentunya berdampak pada terciptanya lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman.

Pengambilan keputusan  yang tepat setidaknya harus melalui 9 langkah pengujian keputusan:
  1. Mengenali nilai-nilai yang bertentangan..
  2. Menentukan siapa yang terlibat dalam situasi ini.
  3. Kumpulkan fakta-fakta yang relevan dengan situasi ini.
  4. Pengujian benar atau salah. (uji legal, uji regulasi, uji intitusi, uji publikasi, dan uji panutan)
  5. .Pengujian Paradigma benar lawan benar .
  6. Melakukan prinsip resolusi..
  7. Invesrigasi opsi trilema..
  8. Buat keputusan..
  9. Lihat lagi keputusan dan refleksikan 
Dengan melalui sembilan tahapan di atas diharapkan sebuah keputusan yang diambil guru benar-benar keputusan yang bijaksana dan tidak merugikan siapapun.

Jenis- Jenis Keputusan yang Sulit diputuskan di Sekolah


Selanjutnya, apakah kesulitan-kesulitan di lingkungan Anda yang sulit dilaksanakan untuk menjalankan pengambilan keputusan terhadap kasus-kasus dilema etika ini? Apakah ini kembali ke masalah perubahan paradigma di lingkungan Anda?

Korelasi  Pengambilan Keputusan dengan Pengajaran Merdeka Belajar


Dan pada akhirnya, apakah pengaruh pengambilan keputusan yang kita ambil ini dengan pengajaran yang memerdekakan murid-murid kita?

Pengambilan keputusan yang kita ambil berpengaruh dalam pengajaran yang memerdekakan murid.  Sekecil apapun keputusan yang diambil guru sebagai pemimpin pembelajaran akan berpengaruh terhadap strategi pembelajaran. Kalau seorang guru memutuskan bahwa setiap murid adalah cerdas. Setiap murid pasti punya potensi yang suda Tuhan Yang Maha Esa anugerahkan sejak lahir. Tugas gurulah untuk menemukan potensi murid. Tentu saja tidak bisa sendiri, namun kolaborasi dengan orang tua. 

Ketika minset guru dan orang tua terhadap anak sudah satu frekuensi, maka akan memudahkan guru untuk menuntun tumbuh kembang murid sesuai potensi/ kodratnya. Baik kodrat alam maupun kodrat zaman. Hal ini berimbas kepada cara guru merancang strategi pembelajaran. Yang akan senantiasa memandang keragamanan potensi murid. Pembelajaran berderensiasi akan menjadi sebuah pilihan utama. Baik deferensiasi konten, proses, maupun produk. Sehingga murid benar-benar belajar dengan bebas/merdeka sesuai profilnya. Sehingga setiap potensi murid dapat tumbuh dan berkembang maksimal. Pun murid dapat menjadi anggota masyarakat yang mandiri dan mencapai kebahagian dan keselamatan di masa mendatang.

Korelasi Pengambilan Keputusan dengan Profil Pelajar Pancasila


Apakah kesimpulan akhir yang dapat Anda tarik dari pembelajaran modul materi ini dan keterkaitannya dengan modul-modul sebelumnya?

Pengambilan keputusan bagi seorang guru adalah titik balik wajah masa depan bangsa Indonesia 10 atau 20 tahun yang akan datang. Dari keputusan mengubah mindset sampai keputusan merancang strategi pembelajaran yang mengakomodir keragaman potensi murid. Guru yang senantiasa memperhatikan aspek sosial dan emosional dalam pembelajaran. Sehingga murid senantiasa bahagia belajar. Bahagia menemukan potensinya. Bahagia berkolaborasi dan bergotong royong. Berpikiran global yang bijaksana.  Murid diberikan kemerdekaan seluas-luasnya untuk mengoptimalkan potensinya. 


Selasa, 05 April 2022

Koneksi Antar Materi Modul 3.2. Pemimpin dalam Pengelolaan Sumber daya

 


A. Sintesis Pemimpin dalam Pengelolaa Sumber Daya

Pemimpin ibarat sopir kendaraan yang bernama sekolah. Ketika seorang pemimpin mampu mengidentifikasi aset yang dimiliki sekolah, niscaya kualitas pembelajaran di sekolah tersebut meningkat. Bukan mustahil sebuah sekolah yang terletak di daerah kumuh atau terpencil, namun jika dikelola dengan maksimal. Semua guru dan pemimpinnya bersinergi memanfaatkan aset yang dimiliki untuk pembelajaran yang berpihak pada anak. Niscaya filosofi Ki Hadjar Dewantara bahwa pendidikan adalah penuntun tumbuh kembang anak sesuai dengan kodrat alam dan kodrat jaman menuju kemandirian dan kebahagiaan anak akan terwujud.

Liburan ( Puisi Akrostik dalam Pembelajaran Sosial Emosional)

 

Karya Dewan Guru SDN Panongan II


Rasa bahagia

Oleh-oleh kenangan

Nikmatnya liburan

Indahnya pemandangan

 

Angin sepoi-sepoi

Rindangnya pohon cemara

Istimewanya liburan kali ini

Senang sekali

 

Healing membuat hati senang

Impianku terwujud

Lelah letih terbayar

Menikmati liburan

Inikah rasanya bahagia

Yang aku alami

Akankah terulang lagi

Hari yang bahagia

 

Hasil Worshop PSE dan Puisi Akrostik, 4 Maret 2022

 

Kamis, 31 Maret 2022

ELEMEN-ELEMEN MOTIVASI YANG MEMPROMOSIKAN BELAJAR ( 1)

Oleh Master Eka Wardana.

Tulisan ini merupakan materi KMA OP-37 SGSI

Topik 1 : 16 Maret 202w

MENGAPA SEKADAR MEMUJI MENYEBABKAN CANDU?

1. Bertahun-tahun lamanya, guru menggunakan pujian verbal maupun non verbal sebagai instrumen utama dalam memberi motivasi kepada murid. Semakin lama menggunakan strategi tersebut kian dalam kebutuhan murid akan pujian. Sedikit saja atau berkurang porsinya maka menurun pula keberhasilan murid. Dalam jangka panjang malah menjadi semacam ketagihan, tanpanya seperti tidak ada arti semua yang sudah diusahakan oleh murid.

2. Dalam jangka pendek, pujian terlihat menampakkan pengaruhnya. Murid terlihat senang, merasa puas dan akan mengulang kesuksesan dari apa yang telah dilakukan. Pada fase tertentu murid akan merasakan kejenuhan dengan pola selalu mendapatkan pujian, bahkan pada akhirnya terasa semacam klise, berlebihan atau tidak mendapatkan kepuasan namun: hal yang biasa saja.

3. Kesan yang ditimbulkan dalam diri murid adalah apa yang dikerjakan oleh murid telah menyenangkan hati guru. Karena telah melakukan tugas sesuai dengan arahan dan kriteria yang guru tetapkan. Contohnya “Kerja yang bagus!”, “Saya suka melihat kerjamu yang rapi.”, “Anak pintar.”, dan ungkapan sejenis yang tujuannya adalah memberikan pengakuan terhadap pekerjaan murid.

Eka Wardana:

4. Komentar atau pujian yang sifatnya personal itu mirip umpan balik yang sifatnya umum dan tidak spesifik. Katakanlah “Kerjanya bagus!”, lalu timbul pertanyaan kritis: bagusnya yang bagian mana? Kriteria apa yang dibuat untuk menentukan suatu pekerjaan disebut “bagus” atau “tidak bagus”. Untuk sementara, guru dan murid boleh jadi tidak terlalu mempersolkan hal ini. Namun dalam batas tertentu, pertanyaan di atas menjadi relevan semacam menggugat.


5. Demikian pula dengan pujian yang tidak terlalu spesifik, tolok ukurnya ada pada guru bukan pada murid. Timbul dalam benak murid bagaimana agar memenuhi kata “bagus” dari guru ya? Dan pada akhirnya, murid akan meraba-raba kriteria tersebut agar dapat mencapainya. Jika sudah demikian maka, murid tidak lagi memikirkan bagaimana ketercapaian pemahaman dirinya terhadap materi pelajaran; justru obsesi mendapatkan kata “bagus” itulah yang terus diusahakan.


lagi ya, 


6. Memberi pujian kepada murid tentu saja memberi sensasi tersendiri. Perasaan dihargai, menyenangkan, menambah kepercayaan diri, dan terbitnya keyakinan mampu untuk berhasil. Jika ini yang terus dipupuk, dalam jangka panjang inilah yang kemudian menjadi ketagihan. Sesuatu yang perlu didapatkan secara terus menerus. Semacam ketergantungan apabila tidak mendapatkannya terasa ada yang janggal, kurang, hambar, tidak mantap.


7. Pun dalam jangka pendek, mampu membuat murid bekerja lebih keras untuk mendapatkan capaian tertentu. Perhatikan, murid yang mendapatkan pujian akan dengan ringan mengerjakan tugas selanjutnya atau pekerjaan serupa. Maknanya, efeknya segera terlihat. Sehingga secara instan, guru beranggapan bahwa pemberian motivasinya berhasil. Tentu saja benar adanya, dalam jangka pendek.


8. Murid yang senantiasa mendapatkan pujian mengurangi kemampuan mengendalikan diri untuk berhasil dari dalam diri sendiri. Bandingkan dengan murid yang memiliki kesadaran bahwa berhasil dan tidaknya capaian lebih karena usahanya, bukan karena pujian. Dalam artian, murid yang memiliki kendali diri akan puas karena mampu menyelesaikan tantangan dan mendapatkan capaian yang diinginkannya. Rasa senang dan nyaman ada pada penghargaan atas bertambahnya kompetensi. Pujian sekadar pemanis saja, bukan faktor utama keberhasilan.


9. Karena kemampuan itu sifatnya bertumbuh, maka tahapan mendapatkannya, mencapaiannya, prosesnya adalah sebuah keberhasilan itu sendiri. Murid yang kenyang dengan pujian, membuat dirinya merasa bahwa kemampuan itu sifatnya menetap. Menurunkan tingkat daya tahan dalam menanggung kegagalan dan bangkit darinya. Kegagalan dan mencoba akan dihindari oleh murid yang bergelimang pujian, takut akan salah dan jatuh. Padahal, dalam belajar: kebingungan, ketidaktahuan, ketidakbisaan merupakan kondisi yang perlu dilalui.


10. Satu hal yang perlu menjadi pertimbangan guru dalam memberi pujian. Seyogyanya, dan sepatutnya guru memberikan pujian dalam kondisi apa pun, tanpa syarat apa pun. Bahwa guru menyayangi muridnya dalam kondisi sukses dan gagal. Apabila pujian hanya diberikan saat berhasil, maka murid akan menilai bahwa kasih sayang guru terbit pada saat bisa mencapai sesuatu. Bilamana tidak berhasil maka, pujian disimpan guru untuk dikeluarkan kemudian.